LAJUPANTURA.COM – Sejumlah peneliti di China mengklaim telah berhasil mengembangkan aplikasi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang dapat memprediksi arah rudal hipersonik. Teknologi ini memungkinkan pertahanan udara Beijing bisa mencegat rudal asing yang mengancam negara itu.
Seperti diketahui, rudal hipersonik adalah jenis senjata rudal yang dapat melakukan manuver dengan mengelak acak saat terbang dan memiliki kecepatan lima kali lebih cepat dari kecepatan udara.
Senjata semacam ini hampir mustahil dibendung atau ditangkis dengan sistem keamanan yang dimiliki oleh negara-negara maju. Namun, China mengklaim berhasil mengembangkan senjata anti rudal hipersonik.
Baca Juga: RS-28 Sarmat: Rudal Mematikan Teranyar Milik Rusia
Para ilmuwan militer yang berbasis di Wuhan ini juga mengeluarkan rilis mengenai sistem kinerja anti rudal hipersonik pada April 2022 lalu. Mereka mengatakan bahwa AI terbaru ciptaannya dapat menghitung arah terbang rudal dengan menggunakan data awal peluncuran rudal.
Dengan asumsi ini, mereka menarik kesimpulan jika setiap rudal, baik yang modern maupun yang kuno, dibatasi oleh hukum fisika yang tetap. Artinya, setiap gerakan proyektil yang berkecepatan tinggi dapat dianalisis untuk mendapatkan petunjuk mengenai desain, kemampuan dan misinya/tujuan.
AI buatan China ini juga dilaporkan lebih canggih dibanding dengan sistem sebelumnya yang juga mampu memprediksi lintasan rudal hipersonik. Sistem yang lama menampilkan hasil analisa dalam waktu 15 detik dan mampu mencegat rudal hingga 12 kali kecepatan suara.
Baca Juga: Taiwan Ujicoba Drone Bersenjata Canggih Untuk Pertahanan Asimetris
Sedangkan AI yang baru ini, diklaim mampu memperkirakan potensi arah rudal dan dapat menyerang balik/merespon serangan dalam waktu 3 menit.
Meski diklaim sebagai sistem modern, namun AI ini juga memiliki kelemahan. Sistem yang mencatat data mentah mengandung banyak variabel yang bisa saja membingungkan komputer/pengguna. Komputer yang dibanjiri oleh informasi belum valid ini akan menghasilkan data dan analisa yang juga kurang akurat.
Untuk mengatasi masalah ini, para peneliti kemudia mengembangkan algoritma pembelajaran secara mendalam sehingga secara otomatis akan dapat menghilangkan informasi yang belum valid tersebut. Kinerjanya, sistem akan menangkap informasi mis tersebut dari sinyal dan meniru otak manusia bekerja dengan berfokus pada data terbaru tersebut.
Baca Juga: China Luncurkan AI ke Satelit, Disebut Mampu Eksplorasi dan Pantau Objek Tersembunyi
Dalam hal ini, China tidak sendirian. Amerika Serikat (AS) juga telah mengembangkan sistem AI yang dapat menangkis ancaman rudal seperti balistik, rudal jelajah terbang rendah, ICBM hingga hipersonik.
Wakil Direktur Badan Pertahanan Rudal AS, Laksamana John Hill, menekankan bahwa sistem AI sebagai satu-satunya solusi yang layak untuk merespon ancaman senjata modern dengan sedikit kesalahan. Sistem semacam ini akan sangat berguna di era perang kontemporer sebagai pertahanan rudal yang membutuhkan analisa di luar kemampuan manusia.
Artikel Terkait
Melihat Kriptophone Rusia Yang Diretas Barat dan Teknologi Militer Canggih Lainnya
Perbedaan antara TV Analog dengan TV Digital
Terdampak Inflasi, Tesla Pangkas Jumlah Karyawan
Apa Itu Blockchain, Sistem Yang Diklaim Dapat Menghemat Dana Pemilu? Simak Penjelasan Berikut
Infinix Note 12 VIP Multitasking Master resmi masuk di Indonesia